Senin, 30 Juli 2012

Allah, peluk Aku.....


Aku lelah..........
teramat sangat lelah......
orang-orang itu memuakkan....dunia ini membosankan.......
aku ingin ada seseorang memelukku, menenangkanku, menguatkanku.....
namun tak ada seorangpun.......TAK ADA...
peluk aku Allah!!! dalam setiap sujud dan doaku.....


_________S>_<M>-<W_________


Selasa, 24 Juli 2012



jika kekasihmu tidak di hatimu lagi, perhatikanlah mungkin ada sahabatmu yang sedang tersenyum dari kejauhan. Jika itu pun tak ada. Yakinkan senyum ibu yang meraihmu atau ayah yang dulu biasa menepuk bahumu, menguatkanmu. Jika merekapun tiada, maka Allah ada dimanapun kakimu berpijak. 
#JANGAN PATAH #
_____Nuruddin al-indunisy____

Kamis, 19 Juli 2012



Tak usahlah bersusah payah menuntut tuhanmu untuk merubah takdir-Nya, tapi berdo'alah agar hatimu ridha, agar hatimu senang dengan takdir-Nya, dan bersahabatlah dengannya dalam setiap helaan nafasmu agar DIA ridha kepadamu.
"Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Tidak ada yang pergi dari hati."
--Rembulan Tenggelam Di WajahMu, Tere Liye

 
Allah, izinkan kami menguatkan hati dengan namaMu. Agar tawar setiap luka, agar terobati setiap kecewa, agar sejuk setiap resah. Amin...
_________asma nadia___________
 
 
"harapan tanpa iman,, adalah kekecewaan yang menunggu waktu... kebahagian tanpa barokah bagai bayang-bayang tanpa cahaya.."

Selasa, 17 Juli 2012

Life is nothing except about me and Allah.........



Hitam Putih Jalan Hidup
Pahit Getir Warna Dunia
Tangis Tawa Rasa Hati
Terluka Atau Bahagia
Rasa Bangga Sementara
Setiap Duka Tak Abadi
Semuanya Wajah Kan Dipuji
Pada Allah Kita Kan Kembali

Di bawah langitMu Lyric

Minggu, 15 Juli 2012

SAAT PALING JAUH TTTT_____TTTT




Saat yang paling jauh adalah saat mata
mampu memandang orang yang kita cintai
NAMUN kita tak dapat menatapnya dengan
halal.

Saat yang paling jauh adalah saat kita

berhadapan dengan orang yang kita cintai
NAMUN kita haram menyentuhnya.

Saat yang paling jauh adalah ketika tangan
mampu meraihnya NAMUN dia tlah
menggenggam jari tangan yang lain.

Saat yang paling jauh dan menyakitkan
adalah pada saat kita berada di sebuah acara
Ijab Qobul NAMUN Orang yang kita cintai
bersanding dengan Insan yang menjadi
pilihannya..

 http://www.facebook.com/pages/Sebelum-Engkau-Halal-BagiKu/138509376220354

Rabu, 11 Juli 2012

KERANJANG KEHIDUPAN



Keranjang Kehidupan

Alkisah, di sebuah kerajaan kecil ada seorang Pemuda desa yang jujur dan idealis tengah menanjak karirnya. Setelah beberapa tahun mengabdi, dia di promosikan sebagai pejabat pengawas keuangan kerajaan. Tugas sehari-harinya mengawasi aliran pajak yang masuk ke kas kerajaan.

Sebagai pengawas keuangan, pemuda itu dihormati dan disegani. Namu, pekerjaannya itu memberinya beban dan target berat. Dia harus mengatasi kebocoran keuangan dan menindak pejabat korup. Akibatnya, dia sering mendapat ancaman dan tekanan.

Hati Sang Pemuda mulai gundah dan goyah. “Jabatanku sekarang cukup terpandang, tetapi konsekuensinya sangat berat. Bagaimana mempertahankan jabatan tapi tidak menanggung beban seberat ini?” tanyanya dalam hati.

Setelah merenung dan tidak menemukan jawaban, Pemuda itu menemui seorang Kakek bijaksana di kampung halamannya untuk meminta nasihat.

Kakek bijak itu memberi sebuah keranjang besar. “Ayo, panggul keranjang ini dan ikuti Aku” perintahnya.

Meski awalnya ragu, Pemuda itu mengikuti perintah tadi. Kakek bijak mengajak dia menyusuri jalan-jalan pedesaan. Sambil berjalan, Si Pemuda diminta memasukkan batu-batuan yang berserakan di jalan ke dalam keranjang. Setelah cukup jauh berjalan, keranjang itu hampir di penuhi batu-batuan. Si Pemuda pun mulai tersengal-sengal dan jalannya terseok-seok.

“Apa beban di pundakmu semakin berat?” Kakek bijak bertanya.

“Ya,, pasti lah Kek! Pundak…. pundak Saya mau copot rasanya,” jawab Si Pemuda tersengal-sengal.

Begitu tiba di pohon rindang, Si Kakek meminta Pemuda itu beristirahat dan menaruh keranjangnya.

“Keranjang dan batu-batu itu hampir sama seperti kehidupanmu saat ini. Saat lahir, Engkau sama seperti keranjang kosong. Lalu dalam perjalanan hidupmu, kau pungut apa pun yang engkau temukan atau inginkan, lalu memasukkan ke keranjang kehidupanmu. Termasuk keluarga, pekerjaan, tanggung jawab dan idealisme. Semua ada ‘harganya’. Semakin jauh perjalanan hidupmu, semakin berat keranjang kehidupanmu,” jelas Si Kakek panjang lebar.

“Bagaimana supaya keranjangku bisa lebih ringan, Kek?” tanya Si Pemuda.

Bukannya menjawab, si Kakek malah bertanya, “Maukah kamu meninggalkan semua yang dimiliki saat ini, seperti keluarga, jabatan, idealisme atau mimpi-mimpimu?”

Anak muda itu menggelengkan kepala, “Saya masih punya hasrat besar untuk membersihkan kerajaan dari para koruptor,” jawab Si Pemuda.

“Sepanjang kehidupan, masalah, kesulitan, hambatan, dan tantangan selalu ada. Tidak ada kehidupan tanpa itu semua. Setiap kali kita berhasil melewati suatu masalah, kita tumbuh lebih matang. Lalu muncul ujian baru, begitu seterusnya. Itulah kehidupan,” jelas Si Kakek bijak.

Pemuda itu manggut-manggut dan mulai mendapat gambaran. Si Kakek melanjutkan, “Semakin besar prestasi kita, semakin besar pula beban di pundak kita. Nasihatku, bila semua yang engkau peroleh tidak ingin kau lepaskan, terimalah konsekuensinya. Tapi, jangan anggap lagi sebagai beban semata, anggaplah itu sebagai tanggung jawab yang membahagiakan. Maka, seberat apa pun beban itu, kamu tidak akan begitu merasakannya lagi.”

Begitu penting tanggung jawab dalam kehidupan. Sebagai ibu rumah tangga, kepala keluarga, anak, pejabat pemerintah, pimpinan perusahaan, pengusaha, pedagang atau karyawan, kita tak bisa lari dari keranjang beban kehidupan. Semua memiliki fungsi dan tanggung jawab sendiri-sendiri.

Orang-orang sukses adalah orang yang bertanggung jawab. Mereka melihat tanggung jawab sebagai ‘tantangan’ yang harus di hadapi. Mereka juga memandang tanggung jawab dan beban di dalamnya sebagai sebuah ‘peluang’ yang sesungguhnya ada di mana-mana, dan menghampiri siapa saja dalam berbagai wujud.

Jangan mudah mengeluh, menyerah atau patah semangat jika mendapat tanggung jawab, tantangan, serta konsekuensi beban yang terkandung di dalamnya.

* Taman Hikmah Islam *

By : Moe-Nha 'peri kecil' ( Al-Madinatul Siti Munawwaroh III )

http://www.facebook.com/RHMS.munaperikecil.muslimah

Senin, 09 Juli 2012

Biarkan, Bila Jatuh ke Jurang

Biarkan, Bila Jatuh ke Jurang (eramuslim)


Sebab jurang tak selalu berarti kekalahan,
sebab jurang tak melulu masalah ketakberdayaan,
sebab jurang tak selamanya tempat kejatuhan.

Karena jurang juga diciptakan untuk mereka yang ingin mendaki,
karena jurang ada bagi mereka yang berani,
untuk menyeberangi,
untuk menaikinya kembali, bila ia terjatuh nanti.

Jadi, biarkan bila jatuh ke jurang, bila memang harus jatuh.
Sebab selalu ada yang membantumu untuk naik kembali.

DH Devitadh_devita@yahoo.com
(hadiah untuk FLP'ers, dan semua yang ada di "panggung pelangi


SUDAH BENARKAH TAUHID KITA ?????

Banyak orang yang menyepelekan dan tidak mengetahui hakikat tauhid, ketika ada majelis ilmu yang membahas masalah tauhid mereka mengatakan “ kajiannya kurang enak “ “ yang dibahas itu-itu saja “ “ kajiannya berat “ dan banyak lagi perkataan-perkataan yang dijadikan alasan seolah-olah mereka sudah menguasai atau tidak mau tahu masalah tauhid. Alasan-alasan seperti itu dapat kita jawab, bukankah tauhid adalah misi utama para Rasul Allah untuk manusia, seluruh para nabi dan rasul mengusung satu tujuan yakni ,mendakwahkan tauhid, lantas mengapa kita meremehkannya atau tidak mau mengkajinya, bukankah Rasulullah pernah bersabda :
“Iman memiliki lebih dari 70 cabang atau lebih dari 60 cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan: ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan dan malu adalah salah satu cabang Iman.” ( HR. Muslim ) ( Lihat Madaarijus Saalikiin (III/462), cet. Daarul Hadits)
Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menuturkan: “Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para Rasul.”
Dengan penjelasan imam nawawi dan Imam Ibnul Qayyim rahimahumullah di atas, masihkah kita merasa tabu terhadap tauhid, marilah kita untuk bermuhasabah, sudah benarkah tauhid kita…?
MAKNA TAUHID
Tauhid adalah mengesakan atau meyakini keesaan Allah dalam penciptaan, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyah ( penciptaan ), Tauhid Uluhiyah ( peribadatan ) serta Tauhid Asma' wa Sifat. Setiap macam dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya. ( kitabut tauhid syaikh al fauzan )
TAUHID RUBUBIYYAH
Yang dimaksud tauhid rububiyyah adalah mengimani keesaan Allah dalam hal penciptaan, dan seluruh ciptaan Allah disebut makhluq, langit, bumi, gunung, hewan, manusia, jin, malaikat, matahari, bulan, planet-planet, awan, angin, tumbuhan dan seluruh yang ada di langit dan bumi itu seluruhnya Allah azza wajalla yang menciptakannya, Allah berfirman:
“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam." [Al-A'raf: 54]
Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menye-kutukan Allah dalam ibadah pun, mereka mengakui keesaan rububiyah-Nya. Allah berfirman:

"Artinya : Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka ( orang –orang musyrik ) akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka ( orang-orang musyrik ) akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al-Mu'minun: 86-89]
“ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” ( Al-Ankabut : 61 )
Dan perlu kita ketahui dan wajib kita imani bahwa yang memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menutup siang kepada malam, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuhan, itu semuanya hanya Allah lah yang memiliki kekuasaan seperti itu, Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, ..." [Hud : 6]
“ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." [Ali Imran: 26-27]
Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." [Al-Fatihah: 2]
“ Allah menciptakan segala sesuatu ..." [Az-Zumar: 62]
Jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah:

" Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" [Ibrahim: 10]

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir'aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa alaihis salam kepadanya:

" Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa". [Al-Isra': 102]

Ia juga menceritakan tentang Fir'aun dan kaumnya:

" Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya." [An-Naml: 14]
Maka jika kita tidak mengimani itu semua maka kita kufur dan menyebabkan kita semua keluar dari islam. Namun banyak sekali manusia yang menyepelekan hal ini terutama dalam masalah rizki. Seakan-akan ia tidak percaya bahwa Allahlah yang memberi rizki, mereka menempuh jalan-jalan yang tidak Allah ridhai, bahkan tidak sedikit mereka berani meninggalkan perintah Allah hanya demi pekerjaannya ( na’udzubillah ). Mereka meninggalkan shalat, melepas jilbabnya dan lain sebagainya. Mereka takut jika dipecat maka dia akan mati kelaparan, ingatlah wahai saudaraku, renugkanlah firman Allah berikut:
“ Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Al-Ankabut : 60 )
Binatang saja yang tidak memiliki akal dan tidak beribadah seperti kita, Allah masih memberi mereka rizki. Andai saja rezeki diperoleh hanya dengan kekuatan niscaya hanya gajah dan singa yang dapat bertahan hidup di dunia ini, andai keberhasilan dan rezeki didapat hanya karena kepandaian saja niscaya keledai ( symbol binatang paling bodoh ) tidak akan bisa hidup bertahun-tahun. Namun kenyataanya bukan hanya gajah yang mampu bertahan hidup tapi semut sekalipun dapat bertahan hidup dan keledaipun yang merupakan binatang terbodoh, bayangkan, sudah dia itu binatang yang tidak punya akal, paling bodoh pula, tapi kenyataanya mereka mampu hidup bertahun-tahun lamanya.
Dan bukan hanya itu saja, banyak manusia yang entah sadar atau tidak mereka sering mengatakan “ saya sembuh oleh obat ini dan itu “ bukankah yang memberi kesembuhan itu Allah, maka katakanlah “ Allah telah menyembuhkan saya lantaran obat ini dan itu “.

TAUHID ULUHIYYAH
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari'atkan seperti do'a, nadzar, kurban, raja' (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut)  inabah (kembali/taubat) dan segala sesuatu yang disandarkan sebagai bentuk peribadahan. Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu'." [An-Nahl : 36]
"Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." [Al-Anbiya' : 25]
Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus:
"Artinya : Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama'." [Az-Zumar : 11]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri bersabda:

"Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Disebut tauhid uluhiyyah, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya, "Allah", yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah). Juga disebut "tauhid ibadah", karena ubudiyah adalah sifat 'abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikias-kan, tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbedaan mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selainNya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya."

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa mereali-sasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. [An-Nisa': 48, 116]

"Artinya : ...Seandainya mereka mempersekutukan Alah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An'am : 88]

"Artinya : Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." [Az-Zumar : 65]

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak ...". [An-Nisa': 36]

"Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan kamu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ..." [Al-Isra': 23].

"Artinya : Katakanlah, 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu dari Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan kamu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak …'." [Al-An'am : 151] (kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan )
Maka dari itu seluruh amal perbuatan yang bersifat ubudiyyah ( peribadatan ) tidak akan diterima oleh Allah kecuali dengan tauhid yang benar. Seperti halnya orang-orang musyrikin yang menyembah berhala dan pada hakekatnya mereka pun bertujuan beribadah kepada Allah namun mereka tidak mentauhidkan Allah maka amalannya tertolak. Karenanya Allah telah berfirman:
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. [Al Ahqaf:5].
Begitulah Allah mensifati orang yang menyembah berhala dan berdo’a kepada selain Allah, mereka bertawassul kepada patung-patung, berhala, kuburan orang-orang shalih seperti yang dilakukan pada zaman Nabi Nuh alaihis salam.
Dan merupakan syarat diterimanya suatu ibadah adalah:
1.       Ikhlas
Maksudnya ialah mengikhlaskan seluruh amal ibadah kita hanya untuk Allah bukan yang lain. Syarat ini adalah syarat mutlaq karena yang memberi pahala hanyalah Allah, jika kita tidak mengikhlaskan untuk Allah, lantas siapa yang akan memberi anda pahala. sebagaimana firman Allah,
“Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)
dan dalam hadits qudsiy Allah berfirman:
Rasulullah bersabda: Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat ( sekutu ), maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainKu maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan kesyirikannya”)
2.       Ittiba’
Yang dimaksud dengan ittiba adalah beribadah sesuai apa yang Rasulullah ajarkan padanya, Allah berfirman:
“ …apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, ambillah, dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah… “ ( Al-Hasyr : 7 )
Katakanlah ( wahai muhammad ): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,ikutilah  aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Ali Imran : 31 )
"Dan sesungguhnya di dalam pribadi Rasulullah itu merupakan ikutan -teladan- yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir." (al-Ahzab: 21)
Dan Rasulullah bersabda:
Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah memberikan wejangan kepada kita semua, yaitu suatu wejangan yang mengesankan sekali, hati dapat menjadi takut karenanya, air matapun dapat bercucuran. Kami ( para sahabat ) lalu berkata: "Ya Rasulullah, seolah-olah itu adalah wejangan seorang yang hendak bermohon diri. Oleh sebab itu, berilah wasiat kepada kita semua!" Beliau s.a.w. bersabda: "Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan mentaati ulil amri ( pemerintah ) sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa yang masih hidup panjang -berumur panjang- diantara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk , gigitlah ia dengan gigi-gigi gerahammu yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.
Dari nash di atas, jelaslah bagi kita untuk mengikuti apa yang diajarkan dan diperintahkan Rasul kepada kita dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya, dan tidak boleh bagi kita untuk mebuat dan melakukan cara-cara baru dalam beribadah yang Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkannya karena itu sia-sia belaka, kita beribadah tetapi tidak ada landasannya maka ia tertolak, sebagaimana ancaman Rasulullah, beliau bersabda:
“ barangsiapa yang beramal suatu amalan yang bukan dari kami maka amalan itu tertolak “ ( HR. Muslim )
“ barangsiapa yang mebuat perkara baru yang bukan berasal dari urusan kami ( agama islam ) maka ia ( amalan itu ) tertolak.” ( HR. bukhari )
Kedua syarat di atas adalah harga mati bagi kita, jika satu saja tidak kita penuhi maka apapun amalan kita akan menjadi sia-sia. Jika kita beribadah dengan ikhlas namun tidak ittiba’ maka kita berbuat sesuatu yang menyelisihi sunnah, jika kita beribadah sesuai sunnah rasulullah namun tidak ikhlas karena Allah maka ibadah kitapun tertolak, maka dari itu ikhlas dan ittiba’ haruslah bersandingan tidak bisa dipisahkan. Itulah barometer ibadah kita. 

Asma’ wash shifat
Tauhid asma’ wash shifat Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ; serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18 )
Adapun prinsip dalam masalah asma’ wash shifat adalah Kita menetapkan segala nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya dan yang telah ditetapkan oleh RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil. . (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18 )
Tahrif
Yang dimaksud dengan Tahrif adalah menyimpangkan makna atau sifat Allah dari yang sebenarnya tanpa dalil. Sebagai contoh yang dilakukan oleh orang-orang mu’tazila terhadap sebagian ayat Al-qur’an, dimana arti sesungguhnya adalah seperti dzahirnya tapi mereka menggantinya dengan kekuasaan atau yang lainnya, contoh:
“ Allah bersemayam di atas Arsy’ ( ar-rahman : 5 ) “
Kalimat istiwa’ ( bersemayam ) di dalam ayat tersebut mereka ganti dengan istaula ( tinggi ), sedangkan tidak ada satupun ulama ahli tafsir yang berpendapat atau terlebih menggantinya demikian, para mufassirin memahami dan membiarkan apa adanya tanpa menggantinya, karena orang mu’tazila tidak mau menerima Allah itu bersemayam karena bersemayam itu untuk makhluk, maka kita jawab, Allah sendiri yang menshifati seperti itu dan adapun bersemayamnya Allah itu tidak sama dengan makhlukNya, bukankah kita punya penglihatan dan Allahpun punya, apakah anda mau menghilangkan sifat melihatnya Allah karena makhluk memilikinya, yang jadi perbedaan adalah penglihatan kita berbeda dengan penglihatan Allah. Allah berfirman:
“ laitsa kamitslihi syai’un, ( tidak ada yang serupa denganNya ) ( asy syura’ : 11 )
Ta’thil
Ta'thil yaitu meniadakan atau menolak adanya nama-nama atau sifat-sifat Allah, baik sebagian atau secara keseluruhan.
Takyif
Takyif adalah menentukan atau menanyakan hakikat tertentu dari sifat-sifat Allah. Contoh Allah bersemayam di atas Arsy’, kita imani bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa menanyakan bagaimana Allah bersemayam atau menentukan bersemayamnya Allah tanpa dalil. Contoh yang lain Allah memiliki tangan, Allah berfirman:
“…tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka…” ( al-ma’idah : 64 )
maka kita imani Allah memiliki tangan namun janganlah kita menanyakan atau memikirkan atau bahkan menentukan sendiri  tangan Allah seperti apa, apakah berjari lima atau tidak.. ini yang menjadi masalahnya, tugas kita hanya mengimaninya saja. Karena pada dasarnya, masalah tauhid asma’ wash shifat itu bersifat taukifi ( berdasarkan dalil ), jika tidak ada dalil yang menerangkan maka kita wajib berdiam diri atasnya tidak boleh mengira-ngira.
Tamtsil
Tamtsil yaitu menyamakan atau menyerupakan nama atau sifat Allah dengan nama atau sifat makhlukNya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah:
“..tidak ada yang serupa denganNya..” ( asy syura’ : 11 )
Bagaimana tidak, makhluk dengan makhluk saja berbeda, tangan manusia dengan tangan kera berbeda, begitupun kaki manusia dengan kaki sapi pun berbeda, ini makhluk dengan makhluk, bagaimana dengan sang Khaliq, tentu akan lebih jauh berbeda lagi.
sumber: Sunnahismylife.blogspot.com

annisa-123

Tiba2 Berfikir lebih dalam membaca dan memaknai  ayat ini....... subhanallah yah..... cukup  memberi semangat ^_^
Perhatikanlah firman Allah SWT dalam Surat An-Nisaa' ayat 123:
"Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah."

Novel pa Darwis bikin senyum :)


Anak perempuan itu harus gesit, Eli. Besok lusa kau akan mengurus keluarga sendiri, anak-anak. Berapa kali kau lupa meletakkan barang milik sendiri? Berteriak-teriak mencarinya? Membuat ribut sekeluarga? Bagaimana coba kalau besok lusa kau lupa di mana meletakkan anak sendiri?”

--Tere Liye, novel Eliana, serial anak2 Mamak buku 4.


Aku tahu apa artinya kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri di sini mengenang semuanya, sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu. Tetapi agar waktu berbaik hati, kita juga harus berbaik hati kepadanya, dengan menyibukkan diri. Sendiri hanya mengundang rasa sesal. Sepi hanya mengundang lipatan-lipatan kesedihan lainnya.

--Tere Liye, novel Sunset Bersama Rosie

SURAT UNTUK HATIKU.......

 
 
Untuk hatiku yang masih menanti,menantilah dengan cinta.Cinta yang akan membuatmu menerima apapun kehendak_Nya.Kelak kau akan sadari, cintamu karena-Nya akan membuat penantian itu tak pernah sia-sia.

Untuk hatiku yang masih menunggu,menunggulah dengan senyum. Senyuman ridho pada siapapun yang selalu menanyakannya.Katakan pada mereka, hatiku tak akan pernah kesepian dalam setiap belaian ketetapan_Nya.

Untuk hatiku yang masih mencari,carilah dengan ikhtiar yang suci. Ikhtiar tanpa nafsu dan paksaan waktu,ikhtiar dengan harapan dan ketundukan,melangkah dalam koridor di jalan_Nya.

Untuk hatiku yang masih merindu,rinduilah Allah Azza Wa Jalla yang paling layak untuk dirindu.Kelak kau akan tahu,merindukan_Nya adalah penantian dan pencarian yang terindah.

Untuk hatiku,sesungguhnya kau dan aku berada dalam genggaman_Nya,maka tak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita bersandar kepada_Nya.Allah Azza Wa Jalla mencintai kita,kau juga tak pernah meragukannya kan?

Hari ini kutulis surat untuk hatiku,
Berharap hati ini hanya menanti, menunggu, mencari dan merindu karena_Nya..Aamiin ya Rabbal'Alamin.
http://www.facebook.com/Page.IstikharahCinta

HANYA HAMBA ALLAH



Hidup di dunia ini hanya sebentar saja
Bila duka bila tawa smoga hati kembali pada Nya
Waktu yang berlari takkan pernah bisa kembali lagi
Bila perih bila sedih air mata bukan segalanya

Hanya hamba Allah yang slalu berserah

Hanya hamba Allah yang slalu berpasrah
Karna segalanya tergantung pada Nya
Hanya pada Dia semua bermuara

Detik waktu kan berlalu

Suka dukakan berlalu
Tiadalah semua abadi
Tangis tawa airmata
Semuakan berlalu dan pergi

Hanya hamba Allah yang slalu berserah

Hanya hamba Allah yang slalu berpasrah
Karna segalanya tergantung pada Nya
Hanya pada Dia semua bermuara

Hanya pada Allah hati kan berserah

Hanya pada Allah jiwakan berpasrah
Karna segalanya tergantung pada Nya
Hanya pada Dia semua bermuara

aBout you.... aBout me......aBout sabar...aBout Ikhlas.............



 Ingin dinasehati, disemangati, dan dipeluk orang baik.... tiba2 diingatkan kembali nasehat ini dalam notifikasi facebook saya..........

|ORANG BERIMAN SAKIT HATI?? NO WAY!!|

Saudaraku yang hatinya indah,
Ikhlas dan sabar itu bukan pembelajaran yang kita dapatkan di sekolah dan pendidikan fomrmal lainnya seperti halnya pelajaran agama yang lainnya saudaraku.
Ilmu Ikhlas dan Sabar itu adalah Ilmu yang hanya kita dapatkan dari pendidikan Universal-Nya, yakni dalam PROSES pelajaran dan pembelajaran Hidup kita. Allah subhanahu wa ta'ala menguji kita dan bahkan memaksa kita agar senantiasa ikhlas ketika sulit untuk ikhlas, memaksa kita untuk sabar ketika kita sulit untuk sabar.

Subhanallah! Mari kita baca dan renungkan secara bersama-sama dengan Iman kita.

Segala yang terjadi ... apapun itu, semua telah Allah Ta'ala tetapkan, putuskan dengan Ilmu, Hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Dan segala sesuatunya PASTI ada hikmah-Nya, pasti ada kebaikan yang Allah subhanahu wa ta'ala selipkan untuk diri kita, pasti ada kebijaksanaan-Nya, pasti ada Cinta dan Kasih sayang-Nya, hanya saja hati kita yang kita tumpul dan sempitkan untuk menerima setiap bahasa hikmah yang telah Allah subhanahu wa ta'ala sebar dan tebarkan. Sungguh, tak ada kesulitan ataupun kesusahan yang Allah berikan kepada kita, justru susah kita sendiri yang membuatnya.

Ada nasihat indah dari Ibnu Qayyim Al Jawziyyah rahimahullah :

Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha' dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan RIDHA ATAS APA YANG DIPILIHKAN RABB-NYA UNTUKNYA, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi ataupun kelapangan yang disegerakan. [Madaarijus Saalikiin (II/166-199)]

Lalu, kenapa kita tetap saja tidak bisa ikhlas?

Kita bukan tidak bisa ikhlas saudaraku, tapi kita YANG BELUM MAU untuk ikhlas. Lho, kok? Kan sudah di sebutkan di atas bahwa segalanya sudah di putuskan dengan Hikmah dan Ilmu-Nya. Kita tidak ikhlas dan tidak sabar berarti kita menyempitkan hati kita dan kebaikan takkan pernah bisa memasuki ruang yang sempit dan gelap saudaraku. Maka lapangkanlah hatimu agar kebaikan-Nya menyeruak di dinding-dinding Hati kita, menjadi cahaya atasnya dan memendar memberikan keindahan.

Saudariku, Islam adalah agama pembelajaran untuk kita semuanya, mediasinya adalah Alam semesta ciptaan-Nya dan Allah Ta'ala sebagai Maha Guru atas kita. Islam mengajarkan kita dan memaksa kita untuk mau dan tidak pernah mengajarkan ketidakmampuan.
Dari sini berarti, bukan kita belum bisa ikhlas saudaraku, akan tetapi kita yang belum mau untuk mengikhlaskan.

Lalu, bagaimana agar bisa mengenali bahasa Hikmah-Nya?

Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu berkata :
"Awwaluddin fii ma'rifatullah (Awal dari Islam adalah MENGENAL ALLAH)"
Kenalilah terlebih dahulu siapa Tuhan kita, kenalilah terlebih dahulu sifat-sifat-Nya, kenalilah dahulu terlebih dahulu segala jubah yang DIA pakai. Ketika kita sudah mengenalnya, maka kita akan senantiasa terkagum-kagum dengan segala kemahaan-Nya, terkagum-kagum dengan segala yang telah Allah ciptakan dan berikan kepada kita. Lalu dari situ timbullah rasa cinta kepada-Nya.

Bukankah orang yang cinta kepada kekasihnya senantiasa percaya kepadanya? Berbaik sangka adalah awal dari munculnya kepercayaan, dan itulah yang seharusnya kita lakukan terhadap Allah Jalla Jallaaluh, Dzat yang telah menciptakan kesempurnaan atas kita di atas kesempurnaan yang ada.

Lalu bagaimana agar diri ini senantiasa bisa benar-benar ikhlas ketika sesuatu telah hilang dari kehidupan kita?

INGAT sahabatku, SEGALA YANG KITA MILIKI BAHKAN NYAWA KITA SEKALIPUN HANYALAH PINJAMAN DARI ALLAH.
Kalau yang punyanya mau mengambil kembali harus atuh kita ikhlaskan. Tidak malu kah kita dengan alam semesta-Nya jika kita masih juga tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah Allah ambil padahal itu hanya pinjaman dari-Nya?

Saudaraku, Allah Ta'ala mengambil bukan berarti DIA benar-benar mengambilnya, namun akan menggantinya dengan yang lebih baik asalkan kita mau bersabar.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [Az Zumar : 10]

Lalu bagaimana jika keikhlasan yang dimaksud adalah dari cacian dan makian orang lain terhadapku? Bahklan sampe memfitnahku?

Mari kita baca dengan Iman kita :
Setiap cacian, makian, hujatan, kata-kata yang kasar bahkan FITNAH sekalipun, itu memang "kotoran" saudaraku, tapi kalau kita mampu mengolahnya akan menjadi pupuk bagi iman kita.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu..." [Al Muzzammil : 10-11]

Subhanallah! Inilah kunci yang membuat orang yang beriman itu tidak pernah STRESS atau bahkan sampe mau bunuh diri, yakni karena senantiasa berbaik sangka kepada Allah Jalla Jallaaluh.
INILAH CIRI DARI CERDASNYA ORANG YANG BERIMAN! Yakni memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam ditanya tentang iman, beliau menjawab : Iman adalah sabar. Sebab kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting.

Bagaimana jika kita sama sekali tidak juga bisa sabar dan ikhlas?

Baca dengan Iman Firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam hadits Qudsi berikut ini wahai saudara-saudariku,

"AKU Allah, tiada Tuhan melainkan AKU : Barangsiapa TIDAK BERSYUKUR atas nikmat-nikmat pemberian-Ku dan TIDAK SABAR atas ujian dan cobaan-Ku serta TIDAK RIDHA terhadap kepastian Qodho-Ku, maka carilah Tuhan selain AKU." [HR. Ath Tirmidzi]

Allaahuakbar! Naidzubillah summa naudzubillah saudaraku.
Tentu tak ada yang mau menjadi makhluk-Nya yang terpinggirkan hanya karena LEMAH.

Saudaraku yang hatinya lembut,
Allah subhanahu wa ta'ala mengajarkan kita harus Ikhlas ketika kita sulit untuk ikhlas dan mengajarkan kita harus sabar ketika kita sulit tuk sabar. Mari terus kita tempa diri kita dalam kesabaran, kesyukuran dan keikhlasan menerima setiap Ketetapan-Nya, semoga Allah subhanahu wa ta'ala mengangkat kita kepada derajat yang lebih tinggi.

Saudaraku, simaklah nasihat indah ini, semoga dapat membuat hatimu semakin indah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Barang siapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman dan qana'ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali dan bertawakkal kepada-Nya.

Barang siapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya. [Madaarijus Saalikiin (II/202)]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu'adz, "Kapankah (seorang) hamba akan mencapai kedudukan ridha?" Ia menjawab, "Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, 'Jika Engkau memberikan kepadaku maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku maka aku btetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahku maka aku memenuhi panggilanmu." [Madaarijus Saalikiin (II/172)]

Sebagian mereka mengatakan, "Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak menghalangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, JANGANLAH ENGKAU MENINGGALKAN KERIDHAAN KEPADA-NYA SEKEJAP MATA PUN, SEHINGGA ENGKAU PUN JATUH DALAM PANDANGAN-NYA." [Madaarijus Saalikiin (II/216)]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:
Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah, maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah.
Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia, ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah-Nya.

[Badrul Akbaad 'inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37]

Yaaah, dunia ini adalah mediasi pembelajaran kita saudaraku, dan kita sekali-kali tak dapat keluar dari apa yang TELAH DITETAPKAN-NYA. Seandainya kita RIDHA [Ikhlas] dengan pilihan Allah untuk kita, maka takdir tetap akan menimpa kita namun kita BERADA DALAM KEADAAN TERPUJI, dihargai dan dilindungi. Jika kita TIDAK RIDHA, maka takdir pun tetap menimpa kita, sedangkan kita DALAM KEADAAN TERCELA serta tidak dilindungi.

Saudaraku, MANUSIA ITU TERPUJI KARENA TERUJI!
Maka Belajarlah, Berproseslah dan Bersungguh-sungguhlah!

Salam bahagia saudaraku
|Mohon maaf laahir dan bathin atas diri yang dzalim ini|
Al Faqir Ila Rahmatillah


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150583356294930&set=a.10150512034964930.401639.746724929&type=1&theater&notif_t=photo_comment_tagged
(Beranda Ridhomu)

Kamis, 05 Juli 2012

T_T


There were days when I had no strength to go on......
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?”.........
But I got through all the pain when I truly accepted..........
That to God we all belong, and to Him we'll return............
(so soon lyric)

Minggu, 01 Juli 2012



Tuhan ....
Sampaikan padanya tentang rinduku.............
Tentang rindunya yang selalu kutunggu......
Tentang rindunya yang rindu padaMu.............