Senin, 09 Juli 2012

aBout you.... aBout me......aBout sabar...aBout Ikhlas.............



 Ingin dinasehati, disemangati, dan dipeluk orang baik.... tiba2 diingatkan kembali nasehat ini dalam notifikasi facebook saya..........

|ORANG BERIMAN SAKIT HATI?? NO WAY!!|

Saudaraku yang hatinya indah,
Ikhlas dan sabar itu bukan pembelajaran yang kita dapatkan di sekolah dan pendidikan fomrmal lainnya seperti halnya pelajaran agama yang lainnya saudaraku.
Ilmu Ikhlas dan Sabar itu adalah Ilmu yang hanya kita dapatkan dari pendidikan Universal-Nya, yakni dalam PROSES pelajaran dan pembelajaran Hidup kita. Allah subhanahu wa ta'ala menguji kita dan bahkan memaksa kita agar senantiasa ikhlas ketika sulit untuk ikhlas, memaksa kita untuk sabar ketika kita sulit untuk sabar.

Subhanallah! Mari kita baca dan renungkan secara bersama-sama dengan Iman kita.

Segala yang terjadi ... apapun itu, semua telah Allah Ta'ala tetapkan, putuskan dengan Ilmu, Hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Dan segala sesuatunya PASTI ada hikmah-Nya, pasti ada kebaikan yang Allah subhanahu wa ta'ala selipkan untuk diri kita, pasti ada kebijaksanaan-Nya, pasti ada Cinta dan Kasih sayang-Nya, hanya saja hati kita yang kita tumpul dan sempitkan untuk menerima setiap bahasa hikmah yang telah Allah subhanahu wa ta'ala sebar dan tebarkan. Sungguh, tak ada kesulitan ataupun kesusahan yang Allah berikan kepada kita, justru susah kita sendiri yang membuatnya.

Ada nasihat indah dari Ibnu Qayyim Al Jawziyyah rahimahullah :

Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha' dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan RIDHA ATAS APA YANG DIPILIHKAN RABB-NYA UNTUKNYA, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi ataupun kelapangan yang disegerakan. [Madaarijus Saalikiin (II/166-199)]

Lalu, kenapa kita tetap saja tidak bisa ikhlas?

Kita bukan tidak bisa ikhlas saudaraku, tapi kita YANG BELUM MAU untuk ikhlas. Lho, kok? Kan sudah di sebutkan di atas bahwa segalanya sudah di putuskan dengan Hikmah dan Ilmu-Nya. Kita tidak ikhlas dan tidak sabar berarti kita menyempitkan hati kita dan kebaikan takkan pernah bisa memasuki ruang yang sempit dan gelap saudaraku. Maka lapangkanlah hatimu agar kebaikan-Nya menyeruak di dinding-dinding Hati kita, menjadi cahaya atasnya dan memendar memberikan keindahan.

Saudariku, Islam adalah agama pembelajaran untuk kita semuanya, mediasinya adalah Alam semesta ciptaan-Nya dan Allah Ta'ala sebagai Maha Guru atas kita. Islam mengajarkan kita dan memaksa kita untuk mau dan tidak pernah mengajarkan ketidakmampuan.
Dari sini berarti, bukan kita belum bisa ikhlas saudaraku, akan tetapi kita yang belum mau untuk mengikhlaskan.

Lalu, bagaimana agar bisa mengenali bahasa Hikmah-Nya?

Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu berkata :
"Awwaluddin fii ma'rifatullah (Awal dari Islam adalah MENGENAL ALLAH)"
Kenalilah terlebih dahulu siapa Tuhan kita, kenalilah terlebih dahulu sifat-sifat-Nya, kenalilah dahulu terlebih dahulu segala jubah yang DIA pakai. Ketika kita sudah mengenalnya, maka kita akan senantiasa terkagum-kagum dengan segala kemahaan-Nya, terkagum-kagum dengan segala yang telah Allah ciptakan dan berikan kepada kita. Lalu dari situ timbullah rasa cinta kepada-Nya.

Bukankah orang yang cinta kepada kekasihnya senantiasa percaya kepadanya? Berbaik sangka adalah awal dari munculnya kepercayaan, dan itulah yang seharusnya kita lakukan terhadap Allah Jalla Jallaaluh, Dzat yang telah menciptakan kesempurnaan atas kita di atas kesempurnaan yang ada.

Lalu bagaimana agar diri ini senantiasa bisa benar-benar ikhlas ketika sesuatu telah hilang dari kehidupan kita?

INGAT sahabatku, SEGALA YANG KITA MILIKI BAHKAN NYAWA KITA SEKALIPUN HANYALAH PINJAMAN DARI ALLAH.
Kalau yang punyanya mau mengambil kembali harus atuh kita ikhlaskan. Tidak malu kah kita dengan alam semesta-Nya jika kita masih juga tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah Allah ambil padahal itu hanya pinjaman dari-Nya?

Saudaraku, Allah Ta'ala mengambil bukan berarti DIA benar-benar mengambilnya, namun akan menggantinya dengan yang lebih baik asalkan kita mau bersabar.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [Az Zumar : 10]

Lalu bagaimana jika keikhlasan yang dimaksud adalah dari cacian dan makian orang lain terhadapku? Bahklan sampe memfitnahku?

Mari kita baca dengan Iman kita :
Setiap cacian, makian, hujatan, kata-kata yang kasar bahkan FITNAH sekalipun, itu memang "kotoran" saudaraku, tapi kalau kita mampu mengolahnya akan menjadi pupuk bagi iman kita.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu..." [Al Muzzammil : 10-11]

Subhanallah! Inilah kunci yang membuat orang yang beriman itu tidak pernah STRESS atau bahkan sampe mau bunuh diri, yakni karena senantiasa berbaik sangka kepada Allah Jalla Jallaaluh.
INILAH CIRI DARI CERDASNYA ORANG YANG BERIMAN! Yakni memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam ditanya tentang iman, beliau menjawab : Iman adalah sabar. Sebab kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting.

Bagaimana jika kita sama sekali tidak juga bisa sabar dan ikhlas?

Baca dengan Iman Firman Allah subhanahu wa ta'ala dalam hadits Qudsi berikut ini wahai saudara-saudariku,

"AKU Allah, tiada Tuhan melainkan AKU : Barangsiapa TIDAK BERSYUKUR atas nikmat-nikmat pemberian-Ku dan TIDAK SABAR atas ujian dan cobaan-Ku serta TIDAK RIDHA terhadap kepastian Qodho-Ku, maka carilah Tuhan selain AKU." [HR. Ath Tirmidzi]

Allaahuakbar! Naidzubillah summa naudzubillah saudaraku.
Tentu tak ada yang mau menjadi makhluk-Nya yang terpinggirkan hanya karena LEMAH.

Saudaraku yang hatinya lembut,
Allah subhanahu wa ta'ala mengajarkan kita harus Ikhlas ketika kita sulit untuk ikhlas dan mengajarkan kita harus sabar ketika kita sulit tuk sabar. Mari terus kita tempa diri kita dalam kesabaran, kesyukuran dan keikhlasan menerima setiap Ketetapan-Nya, semoga Allah subhanahu wa ta'ala mengangkat kita kepada derajat yang lebih tinggi.

Saudaraku, simaklah nasihat indah ini, semoga dapat membuat hatimu semakin indah.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Barang siapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman dan qana'ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali dan bertawakkal kepada-Nya.

Barang siapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya. [Madaarijus Saalikiin (II/202)]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu'adz, "Kapankah (seorang) hamba akan mencapai kedudukan ridha?" Ia menjawab, "Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, 'Jika Engkau memberikan kepadaku maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku maka aku btetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahku maka aku memenuhi panggilanmu." [Madaarijus Saalikiin (II/172)]

Sebagian mereka mengatakan, "Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak menghalangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, JANGANLAH ENGKAU MENINGGALKAN KERIDHAAN KEPADA-NYA SEKEJAP MATA PUN, SEHINGGA ENGKAU PUN JATUH DALAM PANDANGAN-NYA." [Madaarijus Saalikiin (II/216)]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:
Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah, maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah.
Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia, ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah-Nya.

[Badrul Akbaad 'inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37]

Yaaah, dunia ini adalah mediasi pembelajaran kita saudaraku, dan kita sekali-kali tak dapat keluar dari apa yang TELAH DITETAPKAN-NYA. Seandainya kita RIDHA [Ikhlas] dengan pilihan Allah untuk kita, maka takdir tetap akan menimpa kita namun kita BERADA DALAM KEADAAN TERPUJI, dihargai dan dilindungi. Jika kita TIDAK RIDHA, maka takdir pun tetap menimpa kita, sedangkan kita DALAM KEADAAN TERCELA serta tidak dilindungi.

Saudaraku, MANUSIA ITU TERPUJI KARENA TERUJI!
Maka Belajarlah, Berproseslah dan Bersungguh-sungguhlah!

Salam bahagia saudaraku
|Mohon maaf laahir dan bathin atas diri yang dzalim ini|
Al Faqir Ila Rahmatillah


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150583356294930&set=a.10150512034964930.401639.746724929&type=1&theater&notif_t=photo_comment_tagged
(Beranda Ridhomu)

1 komentar: