Senin, 09 Juli 2012

SUDAH BENARKAH TAUHID KITA ?????

Banyak orang yang menyepelekan dan tidak mengetahui hakikat tauhid, ketika ada majelis ilmu yang membahas masalah tauhid mereka mengatakan “ kajiannya kurang enak “ “ yang dibahas itu-itu saja “ “ kajiannya berat “ dan banyak lagi perkataan-perkataan yang dijadikan alasan seolah-olah mereka sudah menguasai atau tidak mau tahu masalah tauhid. Alasan-alasan seperti itu dapat kita jawab, bukankah tauhid adalah misi utama para Rasul Allah untuk manusia, seluruh para nabi dan rasul mengusung satu tujuan yakni ,mendakwahkan tauhid, lantas mengapa kita meremehkannya atau tidak mau mengkajinya, bukankah Rasulullah pernah bersabda :
“Iman memiliki lebih dari 70 cabang atau lebih dari 60 cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan: ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan dan malu adalah salah satu cabang Iman.” ( HR. Muslim ) ( Lihat Madaarijus Saalikiin (III/462), cet. Daarul Hadits)
Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menuturkan: “Tauhid adalah kunci pembuka dakwah para Rasul.”
Dengan penjelasan imam nawawi dan Imam Ibnul Qayyim rahimahumullah di atas, masihkah kita merasa tabu terhadap tauhid, marilah kita untuk bermuhasabah, sudah benarkah tauhid kita…?
MAKNA TAUHID
Tauhid adalah mengesakan atau meyakini keesaan Allah dalam penciptaan, ikhlas beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya Nama-nama dan Sifat-sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyah ( penciptaan ), Tauhid Uluhiyah ( peribadatan ) serta Tauhid Asma' wa Sifat. Setiap macam dari ketiga macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi terang perbedaan antara ketiganya. ( kitabut tauhid syaikh al fauzan )
TAUHID RUBUBIYYAH
Yang dimaksud tauhid rububiyyah adalah mengimani keesaan Allah dalam hal penciptaan, dan seluruh ciptaan Allah disebut makhluq, langit, bumi, gunung, hewan, manusia, jin, malaikat, matahari, bulan, planet-planet, awan, angin, tumbuhan dan seluruh yang ada di langit dan bumi itu seluruhnya Allah azza wajalla yang menciptakannya, Allah berfirman:
“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam." [Al-A'raf: 54]
Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menye-kutukan Allah dalam ibadah pun, mereka mengakui keesaan rububiyah-Nya. Allah berfirman:

"Artinya : Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya `Arsy yang besar?" Mereka ( orang –orang musyrik ) akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka ( orang-orang musyrik ) akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" [Al-Mu'minun: 86-89]
“ Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” ( Al-Ankabut : 61 )
Dan perlu kita ketahui dan wajib kita imani bahwa yang memberi rizki, menghidupkan, mematikan, menutup siang kepada malam, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuhan, itu semuanya hanya Allah lah yang memiliki kekuasaan seperti itu, Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, ..." [Hud : 6]
“ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." [Ali Imran: 26-27]
Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
“ Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." [Al-Fatihah: 2]
“ Allah menciptakan segala sesuatu ..." [Az-Zumar: 62]
Jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah:

" Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" [Ibrahim: 10]

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir'aun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana perkataan Musa alaihis salam kepadanya:

" Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa". [Al-Isra': 102]

Ia juga menceritakan tentang Fir'aun dan kaumnya:

" Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya." [An-Naml: 14]
Maka jika kita tidak mengimani itu semua maka kita kufur dan menyebabkan kita semua keluar dari islam. Namun banyak sekali manusia yang menyepelekan hal ini terutama dalam masalah rizki. Seakan-akan ia tidak percaya bahwa Allahlah yang memberi rizki, mereka menempuh jalan-jalan yang tidak Allah ridhai, bahkan tidak sedikit mereka berani meninggalkan perintah Allah hanya demi pekerjaannya ( na’udzubillah ). Mereka meninggalkan shalat, melepas jilbabnya dan lain sebagainya. Mereka takut jika dipecat maka dia akan mati kelaparan, ingatlah wahai saudaraku, renugkanlah firman Allah berikut:
“ Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Al-Ankabut : 60 )
Binatang saja yang tidak memiliki akal dan tidak beribadah seperti kita, Allah masih memberi mereka rizki. Andai saja rezeki diperoleh hanya dengan kekuatan niscaya hanya gajah dan singa yang dapat bertahan hidup di dunia ini, andai keberhasilan dan rezeki didapat hanya karena kepandaian saja niscaya keledai ( symbol binatang paling bodoh ) tidak akan bisa hidup bertahun-tahun. Namun kenyataanya bukan hanya gajah yang mampu bertahan hidup tapi semut sekalipun dapat bertahan hidup dan keledaipun yang merupakan binatang terbodoh, bayangkan, sudah dia itu binatang yang tidak punya akal, paling bodoh pula, tapi kenyataanya mereka mampu hidup bertahun-tahun lamanya.
Dan bukan hanya itu saja, banyak manusia yang entah sadar atau tidak mereka sering mengatakan “ saya sembuh oleh obat ini dan itu “ bukankah yang memberi kesembuhan itu Allah, maka katakanlah “ Allah telah menyembuhkan saya lantaran obat ini dan itu “.

TAUHID ULUHIYYAH
Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyari'atkan seperti do'a, nadzar, kurban, raja' (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut)  inabah (kembali/taubat) dan segala sesuatu yang disandarkan sebagai bentuk peribadahan. Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu'." [An-Nahl : 36]
"Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'." [Al-Anbiya' : 25]
Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus:
"Artinya : Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama'." [Az-Zumar : 11]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri bersabda:

"Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Disebut tauhid uluhiyyah, karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh namaNya, "Allah", yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah). Juga disebut "tauhid ibadah", karena ubudiyah adalah sifat 'abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepadanya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikias-kan, tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbedaan mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selainNya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka Dia selalu bersamanya."

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa mereali-sasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya, yaitu syirik. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. [An-Nisa': 48, 116]

"Artinya : ...Seandainya mereka mempersekutukan Alah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al-An'am : 88]

"Artinya : Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." [Az-Zumar : 65]

Dan tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama segenap hamba. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak ...". [An-Nisa': 36]

"Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan kamu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ..." [Al-Isra': 23].

"Artinya : Katakanlah, 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu dari Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan kamu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu-bapak …'." [Al-An'am : 151] (kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan )
Maka dari itu seluruh amal perbuatan yang bersifat ubudiyyah ( peribadatan ) tidak akan diterima oleh Allah kecuali dengan tauhid yang benar. Seperti halnya orang-orang musyrikin yang menyembah berhala dan pada hakekatnya mereka pun bertujuan beribadah kepada Allah namun mereka tidak mentauhidkan Allah maka amalannya tertolak. Karenanya Allah telah berfirman:
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. [Al Ahqaf:5].
Begitulah Allah mensifati orang yang menyembah berhala dan berdo’a kepada selain Allah, mereka bertawassul kepada patung-patung, berhala, kuburan orang-orang shalih seperti yang dilakukan pada zaman Nabi Nuh alaihis salam.
Dan merupakan syarat diterimanya suatu ibadah adalah:
1.       Ikhlas
Maksudnya ialah mengikhlaskan seluruh amal ibadah kita hanya untuk Allah bukan yang lain. Syarat ini adalah syarat mutlaq karena yang memberi pahala hanyalah Allah, jika kita tidak mengikhlaskan untuk Allah, lantas siapa yang akan memberi anda pahala. sebagaimana firman Allah,
“Hanyalah bagi Allah agama yang murni”. (QS. Az-Zumar : 3).
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)
dan dalam hadits qudsiy Allah berfirman:
Rasulullah bersabda: Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat ( sekutu ), maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainKu maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan kesyirikannya”)
2.       Ittiba’
Yang dimaksud dengan ittiba adalah beribadah sesuai apa yang Rasulullah ajarkan padanya, Allah berfirman:
“ …apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, ambillah, dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah… “ ( Al-Hasyr : 7 )
Katakanlah ( wahai muhammad ): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,ikutilah  aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Ali Imran : 31 )
"Dan sesungguhnya di dalam pribadi Rasulullah itu merupakan ikutan -teladan- yang baik bagimu semua, juga bagi orang yang mengharapkan menemui Allah dan hari akhir." (al-Ahzab: 21)
Dan Rasulullah bersabda:
Dari Abu Najih al-'Irbadh bin Sariyah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pernah memberikan wejangan kepada kita semua, yaitu suatu wejangan yang mengesankan sekali, hati dapat menjadi takut karenanya, air matapun dapat bercucuran. Kami ( para sahabat ) lalu berkata: "Ya Rasulullah, seolah-olah itu adalah wejangan seorang yang hendak bermohon diri. Oleh sebab itu, berilah wasiat kepada kita semua!" Beliau s.a.w. bersabda: "Saya berwasiat kepadamu semua, hendaklah engkau semua bertaqwa kepada Allah, dan mendengar dan mentaati ulil amri ( pemerintah ) sekalipun yang memerintah atasmu itu seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa yang masih hidup panjang -berumur panjang- diantara engkau semua itu ia akan melihat berbagai perselisihan yang banyak sekali. Maka dari itu hendaklah engkau semua mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Arrasyidun yang memperoleh petunjuk , gigitlah ia dengan gigi-gigi gerahammu yakni pegang teguhlah itu sekuat-kuatnya. Jauhilah olehmu semua dari melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya segala sesuatu kebid'ahan itu adalah sesat." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.
Dari nash di atas, jelaslah bagi kita untuk mengikuti apa yang diajarkan dan diperintahkan Rasul kepada kita dan meninggalkan apa yang ditinggalkannya, dan tidak boleh bagi kita untuk mebuat dan melakukan cara-cara baru dalam beribadah yang Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkannya karena itu sia-sia belaka, kita beribadah tetapi tidak ada landasannya maka ia tertolak, sebagaimana ancaman Rasulullah, beliau bersabda:
“ barangsiapa yang beramal suatu amalan yang bukan dari kami maka amalan itu tertolak “ ( HR. Muslim )
“ barangsiapa yang mebuat perkara baru yang bukan berasal dari urusan kami ( agama islam ) maka ia ( amalan itu ) tertolak.” ( HR. bukhari )
Kedua syarat di atas adalah harga mati bagi kita, jika satu saja tidak kita penuhi maka apapun amalan kita akan menjadi sia-sia. Jika kita beribadah dengan ikhlas namun tidak ittiba’ maka kita berbuat sesuatu yang menyelisihi sunnah, jika kita beribadah sesuai sunnah rasulullah namun tidak ikhlas karena Allah maka ibadah kitapun tertolak, maka dari itu ikhlas dan ittiba’ haruslah bersandingan tidak bisa dipisahkan. Itulah barometer ibadah kita. 

Asma’ wash shifat
Tauhid asma’ wash shifat Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ; serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18 )
Adapun prinsip dalam masalah asma’ wash shifat adalah Kita menetapkan segala nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya dan yang telah ditetapkan oleh RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil. . (Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18 )
Tahrif
Yang dimaksud dengan Tahrif adalah menyimpangkan makna atau sifat Allah dari yang sebenarnya tanpa dalil. Sebagai contoh yang dilakukan oleh orang-orang mu’tazila terhadap sebagian ayat Al-qur’an, dimana arti sesungguhnya adalah seperti dzahirnya tapi mereka menggantinya dengan kekuasaan atau yang lainnya, contoh:
“ Allah bersemayam di atas Arsy’ ( ar-rahman : 5 ) “
Kalimat istiwa’ ( bersemayam ) di dalam ayat tersebut mereka ganti dengan istaula ( tinggi ), sedangkan tidak ada satupun ulama ahli tafsir yang berpendapat atau terlebih menggantinya demikian, para mufassirin memahami dan membiarkan apa adanya tanpa menggantinya, karena orang mu’tazila tidak mau menerima Allah itu bersemayam karena bersemayam itu untuk makhluk, maka kita jawab, Allah sendiri yang menshifati seperti itu dan adapun bersemayamnya Allah itu tidak sama dengan makhlukNya, bukankah kita punya penglihatan dan Allahpun punya, apakah anda mau menghilangkan sifat melihatnya Allah karena makhluk memilikinya, yang jadi perbedaan adalah penglihatan kita berbeda dengan penglihatan Allah. Allah berfirman:
“ laitsa kamitslihi syai’un, ( tidak ada yang serupa denganNya ) ( asy syura’ : 11 )
Ta’thil
Ta'thil yaitu meniadakan atau menolak adanya nama-nama atau sifat-sifat Allah, baik sebagian atau secara keseluruhan.
Takyif
Takyif adalah menentukan atau menanyakan hakikat tertentu dari sifat-sifat Allah. Contoh Allah bersemayam di atas Arsy’, kita imani bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa menanyakan bagaimana Allah bersemayam atau menentukan bersemayamnya Allah tanpa dalil. Contoh yang lain Allah memiliki tangan, Allah berfirman:
“…tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka…” ( al-ma’idah : 64 )
maka kita imani Allah memiliki tangan namun janganlah kita menanyakan atau memikirkan atau bahkan menentukan sendiri  tangan Allah seperti apa, apakah berjari lima atau tidak.. ini yang menjadi masalahnya, tugas kita hanya mengimaninya saja. Karena pada dasarnya, masalah tauhid asma’ wash shifat itu bersifat taukifi ( berdasarkan dalil ), jika tidak ada dalil yang menerangkan maka kita wajib berdiam diri atasnya tidak boleh mengira-ngira.
Tamtsil
Tamtsil yaitu menyamakan atau menyerupakan nama atau sifat Allah dengan nama atau sifat makhlukNya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah:
“..tidak ada yang serupa denganNya..” ( asy syura’ : 11 )
Bagaimana tidak, makhluk dengan makhluk saja berbeda, tangan manusia dengan tangan kera berbeda, begitupun kaki manusia dengan kaki sapi pun berbeda, ini makhluk dengan makhluk, bagaimana dengan sang Khaliq, tentu akan lebih jauh berbeda lagi.
sumber: Sunnahismylife.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar