Selasa, 31 Desember 2013

.............

 
 
Sesetengah takdir memang tidak akan kita ketahui apa maksud baiknya. Itulah iman.
Perlu sentiasa bersangka baik kepada Allah.
Mana mungkin seorang hamba tahu semua maksud takdir Ilahi?
Yakini sahaja pasti ada kebaikan.
—  Paksakan Cintanya
Ustaz Mohd Pahrol Bin Juoi (via cengkih)

Minggu, 29 Desember 2013

KEKACAUAN FAHAM ..... (Bang Tere Liye)


*Kekacauan paham

Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan menikah?"

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada juga yang menerima pertanyaan ini sedikit formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan, "Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam titik ekstrem, membuat malas berangkat kondangan, atau menghadiri acara keluarga--tempat di mana modus pertanyaan favorit ini sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?" Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?

Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya momongan?"

Ada yang menerima pertanyaan ini dengan santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus terang, ada juga yang sepulang dari acara tersebut, setelah menerima pertanyaan tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih. Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2 belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari tamu2 undangan lainnya.

Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak, kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi kenapa orang2 masih saja menanyakannya?

Saya sering menyaksikan teman sendiri, kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya paham rasa terganggu itu.

Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini tanpa kesimpulan solusinya.

Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan hal simpel. Kalian pernah datang ke pemakaman? Pernah datang ke acara menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang sambil sumringah, mencoba memecah situasi dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu, kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"

Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran? Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy mengerti.

*repost (Darwis tere Liye Facebook)

Rabu, 11 Desember 2013

Tenang bukan senang :)

 
Kadangkala, kita minta “senang”, tapi yang Allah bagi adalah “tenang.”
Bukankah Tenang itu lebih baik daripada Senang?
*senyum*
—  kita sepatutnya minta pada Allah bukanlah keringanan ujian tetapi sedikit pinjaman kekuatan untuk menghadapi ujian. ;’))
betul ! hehe *lap air mata*
(via islahnafsi)

Jumat, 06 Desember 2013

GAJI KECIL......







Gaji Kecil..

Seseorang dtg kpd Imam Syafi'i mengadukan ttg kesempitan hidup yg ia alami. Dia memberi tahukan bhw ia bekerja sbg orang upahan bergaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia tuk temui org yg mengupahnya agar mengurangi gajinya jadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tdk paham maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu bbrp lama orang itu datang lagi kpd Imam Syafi'i mengadukan ttg kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya tuk kembali menemui org yg mengupahnya dan minta tuk mengurangi lagi gajinya jadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dgn perasaan sgt heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bhw uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi'i menjelaskan bhw pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak dapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.

Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

_____

#PELAJARAN :
Jgn berharap gaji besar bila pekerjaan & kontribusi kita kecil..

Jangan bangga dulu dapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima... :]x

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita.. 
https://www.facebook.com/kata2hikmah.new/posts/10151893176214355